Minggu, 15 Agustus 2010


KISAH CINTA YANG BENER MENGHARUKAN


Untuk Sahabat2ku, ini sebuah kisah menyentuh hati dalam foto yang nyata.

Tuhan itu maha adil dan maha penyayang, Kisah seorang suami istri
dalam keluarga yang sangat sederhana, melihat rata2 sosok laki nya itu

bisa dinilai seorang pria yang cukup sempurna terutama dalam
penampilannya, tapi dia mempunyai seorang istri yang mempunyai kelainan

dalam fisiknya, dimana wanita tersebut tidak mempunyai kaki sama
sekali total dai ujung kaki hingga ujung paha bahkan wanita itu tidak
memiliki
sama sekali pinggul (bagian dari pangkal paha hingga batas pinggang), jadi
sulit skali bila duduk karena tida memiliki alas dibawah pinggang tsb.,
kebesaran Tuhan tentu lain, wanita tersebit memiliki suami yang
cukup ganteng, masih muda dan sangat cukup sempurna mau memiliki dan

Tapi mengasihi seorang wanita yang mempunyai cacat fisik bawaan. mereka
sekarang dikaruniai dua orang anak yang sangat sempurna dan lucu sekali.
Silahkan anda menyimak satu persatu foto2 keluarga tersebut tentu saya melihatnya dengan hati sangat haru.

Kisah Bidadari Surga

Hiks... hiks.....

Siapkan tissue untuk membaca kisah ini ......

Semoga menjadi hikmah, selamat membaca

Namanya Aini. begitu ummi biasa memanggilnya. Salah satu "adik" terbaik yang pernah ummi miliki, yang pernah ummi temui dan alhamdulillah Allah pertemukan ummi dengannya.

Seharusnya 20 Nopember nanti genap ia menginjak usia 37 tahun. Beberapa tahun bersamanya, banyak contoh yang bisa ummi ambil darinya. Kedewasaan sikap, keshabaran, keistiqomahan, dan pengabdian yang luar biasa meretas jalan dakwah ini. Seorang muharrik dakwah yang tangguh dan tak pernah menyerah. Sosok yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah putus asa dan memiliki khusnuzon yang teramat tinggi kepada Allah. Dan dia adalah salah satu amanah ummi terberat, ketika memang harusnya ia sudah memasuki sebuah jenjang pernikahan.

Ketika beberapa akhwat lain yang lebih muda usianya melenggang dengan mudahnya menuju jenjang tersebut, maka Aini ,Allah taqdirkan harus terus meretas kesabaran. Beberapa kali ummi berikhtiar membantunya menemukan ikhwan shalih, tetapi ketika sudah memulai setengah perjalanan proses..Allah pun berkehendak lain. Namun begitu, tidak pernah ada protes yang keluar dari lisannya, tidak juga ada keluh kesah, atau bahkan mempertanyakan kenapa sang ikhwan begitu " lemahnya " hingga tidak mampu menerjang berbagai penghalang ? Atau ketika masalah fisik, suku, serta terlebih usia yang selalu menjadi kendala utama seorang ikhwan mengundurkan diri , Aini pun tidak pernah mempertanyakan atau memprotes " kenapa ikhwan sekarang seperti ini ?

Tidak ada gurat sesal, kecewa, atau sedih pada raut muka ataupun tutur katanya. Kepasrahan dan keyakinan terhadap kehendak Allah begitu indah terlukis dalam dirinya.

Hingga, akhirnya seorang ikhwan shalih yang dengan kebaikan akhlak serta ilmunya, datang dan berkenan untuk menjadikannya seorang pendamping. Tidak ada luapan euphoria kebahagiaan yang ia tampakkan selain ucapan singkat yang penuh makna "Alhamdulillah..jazakillah

ummi sudah membantu...mohon doa agar diridhai Allah "

Alhamdulillah , Allah mudahkan proses ta’arauf serta khitbah mereka, tanpa ada kendala apapun seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Padahal ikhwan shalih yang Allah pilihkan tersebut berusia 8 tahun lebih muda dari usianya.

Berkomitmen pada sunnah Rasulullah untuk menyegerakan sebuah pernikahan, maka rencana akad pun direncanakan 1 bulan kemudian, bertepatan dengan selesainya adik sang ikhwan menyelesaikan studi di negeri Mesir.

Namun , Allah lah Maha Sebaik-baik Pembuat keputusan..

2 minggu menjelang hari pernikahan, sebuah kabar duka pun datang. Usai Aini mengisi sebuah ta’lim , motor yang dikendarainya terserempet sebuah mobil, dan menabrak kontainer didepannya. Aini shalihah pun harus meregang nyawa di ruang ICU. 2 hari setelah peristiwa itu, Rumah sakit yang menanganinya pun menyatakan menyerah. Tidak sanggup berbuat banyak karena kondisinya yang begitu parah.

Hanya iringan dzikir disela-sela isak tangis kami yang berada disana. Semua keluarga Aini juga sang ikhwan pun sudah berkumpul. Mencoba menata hati bersama untuk pasrah dan bersiap menerima apapun ketentuanNya. Kami hanya terus berdoa agar Allah berikan yang terbaik dan terindah untuknya. Hingga sesaat, Allah mengijinkan Aini tersadar dan menggerakkan jemarinya. Rabb..sebait harapan pun kembali kami rajut agar Allah berkenan memberikan kesembuhan, walau harapan itu terus menipis seiring kondisinya yang semakin melemah. Hingga kemudian sang ikhwan pun mengajukan sebuah permintaan kepada keluarga Aini.

" Ijinkan saya untuk membantunya menggenapkan setengah Dien ini. Jika Allah berkehendak memanggilnya, maka ia datang menghadap Allah dalam keadaan sudah melaksanakan sunnah Rasulullah..."

Permintaan yang membuat kami semua tertegun. Yakinkah dia dengan keputusannya ?

Dalam kedaaan demikian , akhirnya 2 keluarga besar itupun sepakat memenuhi permintaan sang ikhwan.

Sang bunda pun membisikkan rencana tersebut di telinga Aini. Dan baru kali itulah ummi melihat aliran airmata mengalir dari sepasang mata jernihnya.

Tepat pukul 16.00, dihadiri seorang penghulu,orangtua dari 2 pihak, serta beberapa sahabat dan dokter serta perawat...pernikahan yang penuh tangis duka itupun dilaksanakan. Tidak seperti pernikahan lazimnya yang diiringi tangis kebahagiaan, maka pernikahan tersebut penuh dengan rasa yang sangat sulit terlukiskan. Khidmat, sepi namun penuh isakan tangis kesedihan.

Tepat setelah ijab kabul terucap...sang ikhwan pun mencium kening Aini serta membacakan doa diatas kain perban putih yang sudah berganti warna menjadi merah penuh darah yang menutupi hampir seluruh kepala Aini. Lirih, kami pun masih mendengar Aini berucap, " Tolong Ikhlaskan saya....."

Hanya 5 menit. Ya..hanya 5 menit setelah ijab kabul itu. Tangisanpun memecah ruangan yang tadinya senyap menahan sesak dan airmata. Akhirnya Allah menjemputnya dalam keadaan tenang dan senyum indah.

Dia telah menjemput seorang bidadari...

Sungguh indah karunia dan janji yang telah Allah berikan padanya...

Dia memang hanya pantas untuk para mujahidNya di Jannah al firdausi....

Dan sang ikhwan pun melepas dengan penuh sukacita dengan iringan tetes airmata yang tidak kuasa ditahannya...

" ..Saya telah menikahi seorang bidadari.. nikmat mana lagi yang saya dustakan..."

Begitulah sang ikhwan shalih mengutip ayat Ar RahmanNya...

Ya Rabb..Engkau sebaik-baik pembuat skenario kehidupan hambaMu..Maka jadikanlah kami senantiasa dapat memngambil hikmah dari setiap episode kehidupan yang Engkau berikan...

Selamat jalan adikku sayang ...engkau memang bidadari surga yang Allah tidak berkenan seorang ikhwan pun didunia ini yang bisa mendampingi kehidupanmu kecuali para ikhwan shalih yang berkhidmat di jalan dakwah dengan ikhlas, tawadhu dan siap berjihad dijalanNya dan kelak menutup mata sebagai seorang syuhada...."

Selamat jalan Aini..semoga Allah memberimu tempat terindah di surgaNya....Semoga Allah kumpulkan kita kelak didalam surgaNya...amiin)

Jumat, 06 Agustus 2010


۞"SURAT UNTUK CALON ISTRIKU"۞

Assalamualaikum wr.wb

Untuk Bunda,,
calon istriku….

Tangan ini mau menulis sesuatu tentang apa yang ada di lubuk hati ku.
Aku mulai tertanya-tanya
apakah aku sudah seharusnya mulai mencari sebagian diriku yang hilang.
Bukanlah niat ini disertai oleh nafsu
tetapi atas keinginan seorang muslim mencari sebagian agamanya.

Sering kali aku mendengar bahwa ungkapan “Kau tercipta untukku.”
*******
Aku awalnya kurang mengerti apa sebenarnya arti kalimat itu karena di liputi oleh hawa nafsu. Rahmat dan hidayah Allah yang diberikan kepada diriku,
baru saat ini aku mengerti bahwa pada suatu hari NANTI aku harus mengambil satu TANGGUNGJAWAB yang memang diciptakan khusus untuk diriku, yaitu DIRIMU.
Aku mulai mempersiapkan diri dari segi fizkal,
spiritual dan juga intelektual untuk BERTEMU denganmu.
*******
Aku mau pertemuan kita yang pertama aku kelihatan ‘sempurna’ di hadapanmu
meskipun pada hakekatnya masih banyak lagi kelemahan pada diriku ini.

Aku mencoba mempelajari arti dan hakikat tanggungjawab yang harus aku wujudkan
ketika dipertemukan dengan dirimu.
Aku coba membatasi hubungan pembicaraan dengan wanita lain
yang hanya dalam lingkaran urusan penting
karena aku risau aku menceritakan rahasia diriku kepadanya
karena seharusnya engkaulah yang harus mengetahuinya
kerana dirimu adalah SEBAGIAN DARIKU
dan hak bagimu untuk mengetahui segala lahir dan batin diriku ini.
*******

Apabila aku memakai kopiah, aku disangka ustad.
Diriku memakai jubah, disangka syeikh.
Lidahku mengajak manusia ke arah makruf disangka dai.
Bukan itu yang aku pinta karena aku hanya mengharapkan keridhoan Allah.

Yang aku takuti, diriku mulai didekati oleh wanita karena perawakanku dan perwatakanku.
Baik yang indah berjilbab atau yang ketat bert-shirt,
semuanya singgah disisiku.

Aku risau imanku akan lemah.
Diriku tidak dapat menahan dari fitnah ini.
Rasulullah S.A.W pernah bersabda, “

“Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah yang lebih bahaya untuk seorang lelaki
melainkan wanita.”
*******

Jiwa remaja ku ini mulai mencari cinta menjelma
dan kehadiran wanita amat terasa untuk berada di sisi.
Setiap kali aku merasakannya, aku mengenangkan dirimu.
Di sana engkau setia MENUNGGU diriku,
tetapi di sini aku curang kepadamu andai aku bermain dengan cinta fatamorgana.
Sampaikan doamu kepada diriku
agar aku dapat menahan gelora kejantananku
disamping aku mengajukan sendiri doa diperlindungi diri.
*******

Bukan harta,rupa dan keturunan yang aku liat dalam mencari dirimu.
Cukuplah agama sebagai pengikat kasih antara kita.
Saat di mana aku akan MELAMARMU,
akan ku lihat wajahmu sekilas agar tercipta keserasian diantara kita
kerana itu pesan Nabi kita.
Tidak perlu alis mata seakan alis mata unta,
wajah bersih seakan putih telur ataupun bibir merah delima
tetapi cukup cuma akidah sekuat akar,
ibadah sebagai makanan dan akhlak seindah budi.
*******

Nikahilah wanita karena empat perkara” keturunan, harta, rupa dan agama.
Dan jika kau memilih AGAMA engkau tidak akan menyesal.”

Jika aku dipertemukan dengan dirimu, akan ku jaga perasaan kasih ini
supaya tidak tercurah sebelum masanya.

Akan ku jadikan syara’ sebagai pembatas diri kita.
Akan ku jadikan AKAD NIKAH itu sebagai cap HALAL untuk mendapatkan dirimu.
Biarlah kita mengikuti nenek moyang kita,
Nabi Adam dan Siti Hawa yang bernikah sebelum disatukan agar kita dapat menikmati kenikmatan PERNIKAHAN yang menjanjikan ketenangan jiwa,
ketenteraman hati dan kedamaian batin.
Doakan diriku ini agar tidak berputus asa dan sesat dalam misi mencari dirimu
kerana aku memerlukan dirimu untuk melengkapkan sebahagian agamaku.
*******

Dari Ayah,calon suamimu…

Ya Allah Jika dia benar untukku
Dekatkanlah hatinya dengan hatiku
Jika dia bukan milikku
Damaikanlah hatiku Dengan ketentuan-Mu

Dialah permata yang dicari
Selama ini baru kutemui
Tapi ku tak pasti rencana Ilahi

Apakah dia kan kumiliki

Tidak sekali dinodai nafsu
Akan kubatasi dengan syariat-Mu
Jika dirinya bukan untukku
Redha hatiku
dengan ketentuan-Mu


Ya Allah

Engkaulah tempat kubergantung harapanku

Kuharap diriku sentiasa di bawah rahmat-Mu

Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ♥Surat Untuk Calon Suamiku♥Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ


Seorang gadis menulis surat untuk calon husband dan menyimpannya di atas awan.

Ini isi suratnya :

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Dear calon suamiku…

Apa kabarnya imanmu hari ini?
Sudahkah harimu ini diawali dengan syukur karena dapat menatap kembali fananya hidup ini? Sudahkah air wudhu menyegarkan kembali ingatanmu
atas amanah yang saat ini tengah kau genggam?


Wahai Calon Suamiku…

Tahukah engkau betapa Allah sangat mencintaiku dengan dahsyatnya?
Disini aku ditempa untuk menjadi dewasa,
agar aku lebih bijak menyikapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak.
Meskipun kadang keluh dan putus asa menyergapi,
namun kini kurasakan diri ini lebih baik.


Kadang aku bertanya-tanya,
kenapa Allah selalu mengujiku tepat dihatiku.
Bagian terapuh diriku, namun aku tahu jawabannya.
Allah tahu dimana tempat yang paling tepat
agar aku senantiasa kembali mengingat-Nya kembali mencintai-Nya.
Ujian demi ujian Insya Allah membuatku menjadi lebih tangguh,
sehingga saat kelak kita bertemu,
kau bangga telah memiliki aku dihatimu, menemani harimu.


Calon suamiku…

Entah dimana dirimu sekarang.
Tapi aku yakin Allah pun mencintaimu sebagaimana Dia mencintaiku.
Aku yakin Dia kini tengah melatihmu menjadi mujahid yang tangguh,
hingga akupun bangga memilikimu kelak.


Apa yang kuharapkan darimu adalah kesalihan.
Semoga sama halnya dengan dirimu.
Karena apabila kecantikan yang kau harapkan dariku, hanya kesia-siaan yang dapati.

Aku masih haus akan ilmu.
Namun berbekal ilmu yang ada saat ini,
aku berharap dapat menjadi isteri yang mendapat keridhaan Allah dan dirimu, suamiku.

Wahai calon suamiku…


Saat aku masih menjadi asuhan ayah dan bundaku,
tak lain doaku agar menjadi anak yang solehah,
agar kelak dapat menjadi tabungan keduanya di akhirat.

Namun nanti, setelah menjadi isterimu,
aku berharap menjadi pendamping yang solehah
agar kelak disyurga cukup aku yang menjadi bidadarimu,
mendampingi dirimu yang soleh.


Aku ini pencemburu berat.
Tapi kalau Allah dan Rasulullah lebih kau cintai daripada aku, aku rela.
Aku harap begitu pula dirimu.

Pernah suatu ketika aku membaca sebuah kisah; “
Aku minta pada Allah setangkai bunga segar,
Dia memberiku kaktus berduri.
Aku minta kepada Allah hewan mungil nan cantik,
Dia beri aku ulat berbulu.
Aku sempat kecewa dan protes.
Betapa tidak adilnya ini.

Namun kemudian kaktus itu berbunga, sangat indah sekali.
Dan ulatpun tumbuh dan beruba menjadi kupu-kupu yang teramat cantik.

Itulah jalan Allah, indah pada waktunya.
Allah tidak memberi apa yang kita inginkan,
tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan.
Aku yakin kaulah yang kubutuhkan,
meski bukan seperti yang aku harapkan.


Calon suamiku yang di rahmati Allah…
Apabila hanya sebuah gubuk menjadi perahu pernikahan kita,
takkan kunamai dengan gubuk derita.
Karena itulah markas dakwah kita,
dan akan menjadi indah ketika kita hiasi dengan cinta dan kasih.

Ketika kelak telah lahir generasi penerus dakwah islam dari pernikahan kita,
Bantu aku untuk bersama mendidiknya dengan harta yang halal,
dengan ilmu yang bermanfaat,
terutama dengan menanamkan pada diri mereka ketaatan kepada Allah SWT.


Bunga akan indah pada waktunya.
Yaitu ketika bermekaran menghiasi taman.
Maka kini tengah kupersiapkan diri ini sebaik-baiknya,
bersiap menyambut kehadiranmu dalam kehidupanku.


Kini aku sedang belajar menjadi yang terbaik.
Meski bukan umat yang terbaik,
tapi setidaknya menjadi yang terbaik disisimu kelak.


Calon suamiku…

Inilah sekilas harapan yang kuukirkan dalam rangkaian kata.
Seperti kata orang, tidak semua yang dirasakan dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Itulah yang kini kuhadapi.
Kelak saat kita tengah bersama,
maka disitulah kau akan memahami diriku,
sama halnya dengan diriku yang akan belajar memahamimu.


Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

hidup ini indah bila engkau selalu hadir di sisiku setiap waktu,
hingga aku hembuskan nafas yg terakhir